00:15 – Sebulan

Genap sebulan
Dan kita masih saja tidak jelas
Sperti rembulan malam ini
Terselimuti awan awan putih
Layaknya kau dan aku, kita
Sama tidak jelasnya

Kau hampiri aku
Aku berdiri di tempat

Aku coba menghampirimu
Kau perlahan mundur tanpa alasan

Genap sebulan
Semua kata yang terucap tak lagi bermakna
Semua tindakan tak lagi ada artinya

Genap sebulan
Kita menyakiti diri sendiri
Pernah bermimpi untuk menjadi indah
Namun nyatanya?
Haha sudahlah

Mungkin aku memang bukan yang terbaik

Dan baiknya memang harus seperti ini
Sehingga kita bisa berhenti tuk saling menyakiti

Pernah Tak Senada

Secangkir teh ini mengingatkanku pada sesuatu. Entah apa itu namun bayangnya selalu dalam ingatan.

Aroma yang menenangkan. Juga kepul asap yang mengambang diatasnya.

Secangkir teh ini membuatku lupa akan absensi-absensi.

Kehadiran seseorang yang tiba-tiba. Kepergian seseorang yang tiba-tiba. Serpihan rasa yang muncul secara tiba-tiba pula.

Tentangnya yang dulu tak pernah singgah dalam ingatan. Namun kini mengundang tanya akan ketidakhadirannya.

Masalahnya sederhana saja. Seperti larutan dalam cairan teh ini. Pada akhirnya akan mengalir tetes demi tetes. Senatural itu saja

Sebenarnya ini masalah hatiku. Ketidakharmonisannya dengan akalku yang senantiasa berkata bahwa aku jatuh cinta. Sedangkan hati ini selalu saja berkata tidak. 

Aku tahu aku mengaguminya. Namun aku tahu pasti bahwa aku sedang tidak jatuh cinta. Lihatlah, rumit sekali bukan? 

Aku tidak tahu mau dibawa kemana cerita ini.

Namun setidaknya pernah ada sedikit goresan biru. Akan rasaku padanya. 

Akan hati yang pernah tak senada dengan ucap.

You give me hope, the strength, the will to keep on. No one else can make me feel this way – Sierra