21:08 – Kau dan Aku

Aku tak ingin kau tau
Kau pun tak lain tak bukan
Kau kubur dalam-dalam
Rasa sunyi di ujung kalbu

Yang kau dan aku tau
Hari ini dan esok pasti indah
Tak ingin hancurkan
Dengan sebilah rasa semu tak menentu

Yang aku tau, dari dulu kita selalu menyembuyikan sesuatu
Merasakan rasa tak terucap
Yang selalu dirasuki keinginan tak menganggap

Hanya menganggap lalu
Setelah itu kau dan aku tau
Angan-angan itu benar berlalu
Dengan ekspektasi yang tentu, hancur.

13:01 – Lucu ya

Kita ini lucu ya
Pernah saling berbagi luka
Khawatir bila salah satu terluka
Pernah saling memperhatikan
Saling mendoakan terang-terangan

Mungkin aku yang lebih lucu
Dulu tak pernah sekalipun terbesit dapat bersamamu
Tak pernah sekalipun ku rasa sakit saat sedih berderu-deru menimpamu

Iya, dan yang lebih lucu lagi
Aku bisa dengan mudahnya terjatuh dalam kisah pelikmu ini
Awalnya manis sekali
Lalu memudar dan semakin menipis
Menyisakan rasa hampa di sudut hati

Dulu entah mengapa begitu penting bagimu
Bersama siapa aku
Sedang apa aku
Mengapa sedih begitu
Juga semangat selalu

Namun,
Mungkin kini ada perhatian yang lebih besar dari sekedar aku
Ada seseorang yang rela kau sandari bahu selain aku
Ada seseorang yang harus dijemput tapi bukan aku

Kini,
Memang keberadaanku tak begitu berarti
Hanya dapat dikenang dalam ujung ingatan yang sepi

Tak apa
Saling berkabar melalui status juga menyenangkan

Selama kau bahagia
Selama kau baik-baik saja
Ingatlah, aku juga

00:15 – Sebulan

Genap sebulan
Dan kita masih saja tidak jelas
Sperti rembulan malam ini
Terselimuti awan awan putih
Layaknya kau dan aku, kita
Sama tidak jelasnya

Kau hampiri aku
Aku berdiri di tempat

Aku coba menghampirimu
Kau perlahan mundur tanpa alasan

Genap sebulan
Semua kata yang terucap tak lagi bermakna
Semua tindakan tak lagi ada artinya

Genap sebulan
Kita menyakiti diri sendiri
Pernah bermimpi untuk menjadi indah
Namun nyatanya?
Haha sudahlah

Mungkin aku memang bukan yang terbaik

Dan baiknya memang harus seperti ini
Sehingga kita bisa berhenti tuk saling menyakiti

15:19 – Wajar

Takut kehilangan itu wajar bukan?
Apalagi setelah diperhatikan sebegitu besarnya
Setelah disayangi sebegitu dalamnya
Dicintai sebegitu hebatnya

Takut dia memperhatikan yang lain
Menyayangi wanita diluar sana lebih besar
Mencintainya lebih dalam
Wajar saja kan?
Disaat kini kau dan aku yang mungkin sedang memilih untuk tak berkabar

Apakabar kau wahai hati yang selalu ingin kudengar?
Selalu bercerita tentang apa yang terjadi padamu setiap harinya
Kau tau? Aku senang senang saja mendengarkannya
Bahagia jika aku berhasil memahaminya

Aku suka caramu memastikan bahwa aku baik-baik saja
Walau hanya dengan kata
Aku bahagia bisa merasakan caramu turut bersyukur atas syukurku padaNya
Walau tanpa suara

Namun apa kau tau?
Ketidakpastian selalu menghantuiku
Selalu mengobrak-abrik keyakinanku
Tentangmu

Apakah hanya aku?
Atau perhatian, sayang, dan cinta itu sebenarnya milik semua orang

Entah.

Itu bisa jadi sebuah jawaban jika mungkin detik ini kau bertanya-bertanya mengapa aku diam saja

Aku menunggu.

Dan ku harap kau juga begitu.

18:43 – Worried

Ya Allah, Tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang serta maha mengetahui segala isi hati.

Sembuhkanlah seseorang bila dia sakit.
Ceriakanlah, bila saat ini sedang bersedih.
Kokohkan pendiriannya apabila rapuh.
Teguhkan pundaknya bila jiwanya dirundung ketidakpastian.
Dan baik-baikanlah dia bila sedang tidak baik-baik saja.

Aku memang tak begitu tau. Tapi kuharap ia sedang bahagia

Salahmu

Malam itu mimpi menyapaku
Bersamamu di tengah jalan yg kutuju
Berdiri tegap dengan tubuh yang jangkung
Dalam hatiku tersenyum
Melihatmu lurus menatapku seperti itu

Malam itu aku bermimpi
Kau disini berkemeja putih
Berdua bersisian
Dan kau masih saja tanpa kata

Yang tak kumengerti hingga kini
Entah darimana datangnya resah ini

Bukankah tadinya semua biasa saja
Lalu mengapa jadi aku yang jatuh cinta?

20:19 – Mati Rasa

Hilang inginku tiba-tiba
Karena ucapmu yang robohkan asa
Entah bagaimana ceritanya
Namun aku benar mati rasa

Kata-kata itu bagai angin badai
Meniup dedaunan kering
Yang seujung kuku lagi
Lepas terhempas tak terampuni

Asaku sudah di atas langit
Namun mengapa lagi kau hempas ke bumi?

———————————————————–

5 Februari 2018