21:49 – Si Sulung

Dia, tidak sekuat itu.

Ia lelah mendengar helaan napas berat. Ia dituntut ini dan itu. Ia merasa wajib membahagiakan semuanya.

Dia bingung harus bagaimana, disaat ia dituntut oleh semesta untuk berperang dengan begitu banyak pertumpahan darah. Namun tak punya pedang tuk sekedar membela diri.

Dia tak pernah merasa kalah. Pun tak sadar bahwa dirinya lemah, tak berdaya. Dia adalah tameng. Untuk ayah, ibu, dan adik-adiknya.

Dia tidak boleh merasa takut untuk memulai. Sebab apa yang ia mulai, tidak boleh setengah-setengah. Harus selesai.

Tapi, bagaimana bila si sulung akhirnya menyerah? karena merangkak pun dirasa berat.

Aku sudah bilang, dia tidak sekokoh itu. Namun kelemahannya adalah kekuatannya. Tanggung jawab adalah kewajibannya. Raga dan jiwa adalah alat perangnya.

Dia tetap saja menyeret tubuh di tengah peperangan walau hati terkoyak, walau pikiran tak tentu arah.

Ada banyak darah daging yang harus bahagia.

Karena di dunia ini, ada rapuh yang harus terlihat rapih bukan?

20:38 – Corona

Seusai mandi kusempatkan memandang Yasmin, pohon melati kesayanganku. Berbunga tiga, aromanya terbawa angin, merasuk dalam hidungku. Wangi.

Matahari semakin terik pukul 10.00. Kudongakkan wajahku supaya sinarnya menghujani tubuh dinginku seusai mandi pagi. Hangat.

Sambil berjemur aku memikirkan banyak hal. Tentang aku dan semua orang di negeri ini. Sebenarnya ada apa sih? Mengapa semuanya berubah semakin sulit?

Kepala keluarga kehilangan pekerjaan, finansial sulit, untuk makan sehari-hari? Melihat dompet saja sudah semakin tipis. Menyesakkan.

Ibu-ibu mengeluh. Dagangan mereka utuh. Kami yang seharusnya membeli lauk pauk, terpaksa tidak melarisi. Sebab kata pemerintah, kami harus dirumah. Masak telur dan mie.

Anak-anak bingung. Lapar, tapi ayah dan ibu tidak punya uang. Ingin coba mencari pekerjaan, tapi semua menolak, sedang tidak butuh katanya. Keadaan sedang sulit. Padahal sekolah online, anak-anak butuh kuota, yang tentu saja harganya bukan seribu dua ribu.

Pun dengan mahasiswa yang terombang-ambing. Mereka yang memulai skripsi, perpustakaan tutup hingga akhir April — jika tidak diperpanjang. Harus melakukan penelitian, namun virus sedang bertebaran.

Bencana alam dimana-mana.

Aku menghela napas berat. Akankah semesta semakin kacau?

Ada apa dengan 2020? Penuh dosakah kami sehingga Kau tunjukkan murkaMu dengan memenjarakan kami? Dengan menahan seluruh rezeki kami?

Semoga semesta segera membaik. Sehingga aku, kamu, dan kita semua akan baik-baik saja dikemudian hari.

Teruntuk bumi ku yang sudah tua, semoga panjang umur sehingga anak cucu kami kelak dapat berpijak dalam troposfermu, dapat hidup di dalamnya dengan menanggulangi kerusakan yang kini dan dulu telah kami perbuat.

Dan teruntuk corona, terimakasih telah mengingatkan, bahwa manusia bisa saja menjadi monster yang dapat merenggut bumi yang tak lagi muda ini.

Sekali lagi, semoga Allah selalu melindungi aku, kamu, dan seluruh alam semesta.

Mentari semakin panas menyentuh wajahku. Kulirik jam tangan. Sudah 20 menit ternyata. Pantas saja.

Aku masuk dalam rumah. Menuju ke kamar lalu kembali menatap layar terpaku. Apalagi kalau bukan drama korea.

Yasudah segini dulu.

Untukmu, sehat-sehat selalu ya!

12:09 – Sepi

Disaat sendiri, sepi. Dikeramaian, sepi. Dihari bahagia, sepi. Kau tau? Kata orang, menolonglah dan suatu hari kau pun akan ditolong. Lalu bukankah sama dengan “Bahagiakanlah maka suatu hari kau akan dibahagiakan”?

Tapi sepi selalu saja menemaniku. Bahkan “hanya” ikut bahagia dihari bahagiaku saja tidak. Mereka temanku. Tapi aku selalu saja tak terlihat.

Padahal aku selalu ada.

Aku tidak pamrih.

Aku hanya kecewa memiliki manusia-manusia tidak peka seperti mereka.

Aku sepi, dan akan selalu sepi.

07:15 – Peluk Jauh

Peluk jauh untukmu yg sedang kehilangan. Bersedih meratapi batu berukir sebuah nama. Namun sayangnya, aku tidak disana.

Untukmu yang menangis karena tak kan ada lagi bincang. Pun kebersamaan tuk sekedar menatap bintang.

Untukmu yang sudah setengah mati. Berbesar hati. Merelakan tanpa tapi.

Untukmu yang yakin akan bertemu dengannya suatu hari, di hidup yang kedua nanti.

Maaf. Aku bahkan tak punya keberanian. Tuk sekedar berbelasungkawa.

11:41 – People Change

Pernahkah kau mengenal seseorang dengan sangat baiknya? Sebaik itu hingga kau paham arti hadirnya, paham arti hilangnya.

Ia datang menentramkan hati, mengusir semu yang mengusik damainya kalbu. Hadirnya merekahkan senyum di hatimu.

Pernahkah kau mendengar keluh kesahnya hingga ikut meresahkan jiwamu? Rasa empati yang muncul tiba-tiba karena kesedihannya juga bagian dari kesedihanmu. Turut berbahagia karena kebahagiannya juga bagian dari kebahagiaanmu. Pernah?

Lalu bagaimana bila ia tak hadir lagi? Bagaimana bila kini ia hilang dan kau bukan apa-apanya lagi?

Kau tak tau lagi arti hadirnya, kehadirannya bukan untukmu.

Kau buta dan tuli akan arti hilangnya, apakah memang ingin dicari atau sengaja pergi.

Ia berubah sedemikian rupa, biasanya keinginanmu diusahakan, namun kini disia-siakan. Tak dihiraukan.

Ada prioritas yang lebih diutamakan.

Aku menulis ini bukan karena ingin memaksanya kembali.

Tapi kugarisbawahi, kami tak berkonflik tentang suatu apapun.

Lalu mengapa jadi begitu?

Aku benci sikapnya yang sekarang, sengaja lari supaya tak dikejar. Memangnya ia lari dari apa?

Sometimes people change with no reason.

13:01 – Lucu ya

Kita ini lucu ya
Pernah saling berbagi luka
Khawatir bila salah satu terluka
Pernah saling memperhatikan
Saling mendoakan terang-terangan

Mungkin aku yang lebih lucu
Dulu tak pernah sekalipun terbesit dapat bersamamu
Tak pernah sekalipun ku rasa sakit saat sedih berderu-deru menimpamu

Iya, dan yang lebih lucu lagi
Aku bisa dengan mudahnya terjatuh dalam kisah pelikmu ini
Awalnya manis sekali
Lalu memudar dan semakin menipis
Menyisakan rasa hampa di sudut hati

Dulu entah mengapa begitu penting bagimu
Bersama siapa aku
Sedang apa aku
Mengapa sedih begitu
Juga semangat selalu

Namun,
Mungkin kini ada perhatian yang lebih besar dari sekedar aku
Ada seseorang yang rela kau sandari bahu selain aku
Ada seseorang yang harus dijemput tapi bukan aku

Kini,
Memang keberadaanku tak begitu berarti
Hanya dapat dikenang dalam ujung ingatan yang sepi

Tak apa
Saling berkabar melalui status juga menyenangkan

Selama kau bahagia
Selama kau baik-baik saja
Ingatlah, aku juga