22:53 – 1001 Hujan

Aku terdiam malam ini.

Rintik hujan yang deras membasahi pikiran. Mencampur aduk kenangan. Tentangmu. Dan tentang hujan.

Aku tak pernah menolaknya.

Saat tetes demi tetes nya jatuh menghujani wajah. Mengalir ke bahu. Tangan. Dan jari-jemari.

Persis seperti saat itu. Saat-saat yang kini tiada lagi.

Kau bilang “Lihatlah genangan air disaat hujan tiba.” Aku tertawa.

Kau tersenyum “Selalu ada bayangan bidadari disana.” Dan aku tersipu.

Kau tau? Aku disini menagih janjimu.

Janji yang kau janjikan tak akan pernah ingkar. Janji yang kau buat saat hujan reda. Saat pelangi malu-malu muncul tersenyum melihat kita.

Tapi lihatlah! Janji itu tak pernah ada.

Kau janjikan datang bila hujan tiba. Dulu aku lupa bertanya “Hujan yang keberapa?”

Setiap hujan. Aku disini bersama janji itu. Setiap hujan. Dan kau tak pernah disini.

Dalam hujan yang ke-1000. Aku tak lagi melihat bayangan bidadari dalam setiap genangan air. Aku hanya melihat aku yang bukan lagi bidadari tanpa seorang kamu disini.

Aku memilih tuk pergi di hujan ke-1001.

Meninggalkan luka bersama hujan yang menderas.

Dan janjimu terbang entah kemana terbawa badai yang tiada reda.

Tidak Ada Cinta yang Tidak Cemburu

Kala mentari menyatu bersama debur ombak. Saat langkah-langkah kaki mungil menjejak buih-buih pantai. Aku terpaku

Pagi ini aku terpana lagi. Melihatnya nun jauh disana berdiri tegap dengan tubuh yang jangkung. Hei kau yg berambut gondrong! Terlihatkah aku?

Kumis tipis itu. Guyonan garing itu. Entah bagaimana ia selalu mematung dalam pikirku

Burung-burung malam kembali ke sarangnya. Membuat bersih langit-langit pantai. Biru putih bersatu. Namun tidak seperti power rangers

Aku masih terpaku disini. Dibawah langit yang biru putih bersih. Bersama istana-istana pasir megah lambang surga dambaanku. Masih dihantui angan-angan bersamanya

Ia juga masih disana. Dibawah langit biru putih yang sama dengan langitku. Tertawa. Membuat kedua mata itu menyipit. Tak terlihat.

Sesaat tawa itu reda. Seorang gadis berlari dan berlabuh dalam pelukannya. Mendekap erat si rambut gondrong. Tertawa bersama

Tapi ada yg aneh dalam dadaku. Seperti air dalam teko yang mendidih. Berasap

Aku tak lagi terpana melihat langitku yg sama dengan langitnya. Istana pasir yang tadinya kokoh tiba-tiba luluh lantah dihantam debur ombak. Dan aku tersambar petir yang entah dari mana datangnya. Aku merasa kalah

Pelukan itu milikku bukan? Aku masih saja menganggap tawa itu milikku. Ku kira jarak yang hanya 50 jengkal ini tak akan benar-benar memisahkan kami

Dia benar. Dulu aku tak pernah mengakuinya. Namun sekarang aku sungguh merasakannya

Dan dia teramat benar. Tak ada cinta yang tak cemburu. Maaf jika dulu aku mengingkarinya

Dan kini. Aku yang tak tau diri ini. Masih disini. Menyentuh buih ombak yang menelan habis istana-istana surgawi. Melirik derap langkahnya yg kian menjauhi pantai. Memandang redup langit-langit pantai yang mulai gelap dan menangis