Pernah Tak Senada

Secangkir teh ini mengingatkanku pada sesuatu. Entah apa itu namun bayangnya selalu dalam ingatan.

Aroma yang menenangkan. Juga kepul asap yang mengambang diatasnya.

Secangkir teh ini membuatku lupa akan absensi-absensi.

Kehadiran seseorang yang tiba-tiba. Kepergian seseorang yang tiba-tiba. Serpihan rasa yang muncul secara tiba-tiba pula.

Tentangnya yang dulu tak pernah singgah dalam ingatan. Namun kini mengundang tanya akan ketidakhadirannya.

Masalahnya sederhana saja. Seperti larutan dalam cairan teh ini. Pada akhirnya akan mengalir tetes demi tetes. Senatural itu saja

Sebenarnya ini masalah hatiku. Ketidakharmonisannya dengan akalku yang senantiasa berkata bahwa aku jatuh cinta. Sedangkan hati ini selalu saja berkata tidak. 

Aku tahu aku mengaguminya. Namun aku tahu pasti bahwa aku sedang tidak jatuh cinta. Lihatlah, rumit sekali bukan? 

Aku tidak tahu mau dibawa kemana cerita ini.

Namun setidaknya pernah ada sedikit goresan biru. Akan rasaku padanya. 

Akan hati yang pernah tak senada dengan ucap.

You give me hope, the strength, the will to keep on. No one else can make me feel this way – Sierra